“Tidak selamanya sakit itu menyedihkan….”mungkin ungkapan ini tepat bagi
Ki Mangun Prawiro untuk menerima Kristus sebagai penyelamat hidupnya.Ki
Mangun Prawiro yang merupakan kejawen sejati, jatuh sakit dan harus
dirawat di sebuah rumah sakit, sekitar tahun 1920. Penyakit yang
dideritanya menjadikannya mengenal Kristus, sebab ketika itu Ki Mangun
dirawat di Rumah Sakit Petronella cabang Gunungkidul, yang ketika itu ia
setiap pagi mendengar lantunan lagu-lagu Kristen, serta diinjili
beberapa penginjil. Salah satu diantaranya adalah Ki Mintowiloso. Atas
karya penginjilan Ki Mintowiloso, Ki Mangun akhirnya mau dibaptis dan ia
kembali ke Wiladeg untuk mengabarkan Injil di desa asalnya. Ternyata
usaha Ki Mangun membuahkan hasil, setidaknya ada empat keluarga yang
percaya pada Kristus, oleh karena penginjilan ki Mangun.Mereka adalah
Surasentono, Sasentana, Suroprawiro dan Kertodimedja.Di rumah Ki
Sasentana lah diadakan kebaktian pertama kali di desa Wiladeg.Namun pada
tahun 1930, ki Mangun harus pindah ke Yogyakarta untuk melanjutkan dan
menuntaskan pelayanannya.Kepindahan ki Mangun tidak menyurutkan semangat
saudara-saudaranya yang ada di desa Wiladeg, mereka terus menegakkan
Injil di desa Wiladeg.
Pada akhirnya tanggal 1 Januari 1941, Wiladeg resmi masuk dalam area
wilayah pelayanan GKJ Wonosari (ketika itu masih Pasamoean Gereformeerd
Djawi Tengah Wanasari), atau dengan kata lain Wiladeg menjadi pepanthan
GKJ Wonosari, meskipun hanya ketika itu hanya berjumlah 50 orang.Jumlah
warga pepanthan Wiladeg pun bertambah.Sekitar tahun 1948, atas
persetujuan dari GKJ Wonosari, pepanthan Wiladeg membentuk majelis
sendiri yaitu Satari Siswoharsono, Tambi Mangkuhadiatmadja, Sasentana
dan Surosentana.Dan juga pada tahun tersebut, membentuk panitia
pembangunan gedung gereja, Satari Siswoharsono sebagai koordinator.Usaha
panitia untuk membangun gedung gereja membuahkan hasil.Pada tahun 1951,
panitia berhasil menyelesaikan gedung gereja Wiladeg dengan ukuran
7mx9m.Jumlah jemaat semakin bertambah, hingga berjumlah 811 orang.Untuk
meresmikan gedung gereja Wiladeg, kotbah dilayankan Pdt. Wiyoto
Harjotaruna dan Bp. Endro Supadmo dari departemen Agama urusan Kristen
Yogyakarta.
Tahun 1960 hingga 1968 merupakan masa kelam bagi warga desa Wiladeg.
Diawali sekitar tahun 1963 hingga 1964 dengan mewabahnya hama tikus dan
kekeringan yang panjang. Krisis makanan pun terjadi.Orang sering
menyebutnya dengan gaber.Baru saja merasakan berkat Tuhan, masyarakat
desa Wiladeg harus diperhadapkan dengan pemberontakan G30S/PKI pada
tahun 1965.Namun penderitaan yang dirasakan warga Kristiani, tidak
menyurutkan semangatnya untuk menebarkan kasih ditengah
penderitaan.Banyak dari warga kristiani yang kemudian membuat nasi
bungkus bagi mereka yang kelaparan, menolong mereka yang kesakitan, dan
memberikan tempat bagi mereka yang kedinginan.Setelah masa suram itu
lewat, sekitar tahun 1966, atas berkat pertolongan Tuhan, warga jemaat
pepanthan Wiladeg mulai memikirkan untuk dewasa.Maka dibentuklah panitia
pendewasaan, dimana Bp. Satari Siswoharsono sebagai ketuanya.Atas
berkat Tuhan, pepanthan Wiladeg juga memperluas gedung gerejanya menjadi
7mx17m.Usaha panitia membuahkan hasil. Pada tanggal 3 Juni 1968, atas
persetujuan gereja induk, klasis dan sinode, pepanthan Wiladeg resmi
dewasa menjadi gereja dewasa dengan nama GKJ Wiladeg. Kebaktian
pendewasaan dimulai pukul 10.00, dengan jumlah warga hadir sekitar 673
orang.Yang berkotbah adalah Pdt. Satari Darmo Susastro, yang merupakan
pendeta GKJ Wonosari. Yang menjadi ayat pegangan adalah Matius 11:28,
dengan harapan hadirnya GKJ Wiladeg memberikan pengharapan bagi warga
desa Wiladeg yang berkesusahan dan dientaskan dari kebodohan dan
kemiskinan. Jemaat pun semakin mekar, hingga berjumlah 3.372 orang.
Tidak hanya itu, wilayah pelayanan GKJ Wiladeg juga mekar hingga ke
Candi dan Susukan.Pada tahun 1968 Candi masuk menjadi pepanthan GKJ
Wiladeg.Berawal ketika Bp. Pranoto Sucipto melayani di daerah Candi,
menggerakkan hati ibu Sastro Sunaryo untuk mempersembahkan tanahnya
menjadi gedung gereja.
GKJ Wiladeg semakin berkembang.Pada tahun 1972 GKJ Wiladeg berhasil
merehab gedung gereja dan pastori.Pada tahun itu pula, pelayanan GKJ
Wiladeg menyebar hingga ke Bejiharjo, yang kemudian menjadi pepanthan
GKJ Wiladeg.Adanya kekristenan di Bejiharjo berawal ketika Parto Wijoyo
dan Sandino menjadi Kristen.Mereka seorang mantri yang ditugaskan di
Karangmojo.Rumah mereka berada di Bejiharjo, maka di desa itulah mereka
menyebarkan Injil dan berkembang hingga menjadi pepanthan GKJ
Wiladeg.Perkembangan itu berlanjut dengan ditahbiskannya Bp. Alfius
Suwandi S.Th menjadi pendeta pertama GKJ Wiladeg, pada tanggal 23
Agustus 1974.Pada tahun 1974, pepanthan GKJ Wiladeg bertambah dengan
masuknya Ngipak. Adanya pepanthan Ngipak, berawal pada tahun 1940 dimana
Ki Pradana berteman dengan Ki Kromosono bekerja di Petronella Hospital
cabang Gunungkidul. Karena pertemanannya dengan Ki Kromosono, akhirnya
Ki Pradana mengenal dan menerima Kristus.Ki Pradana kembali ke desanya,
yaitu Ngipak, dan mengabarkan Injil disana.Namun beliau meninggal, dan
pekabaran Injil dilanjutkan oleh Ibu Winarti dan Bp. Tambi
Mangkuhadiatmadja.Tidak hanya itu, Bp. Samingu dan Bp. Suro mengenal
Kristus dan mengabarkan Injil ke Karanganom.Bertumbulah jemaat
disana.Pekabaran Injil dilanjutkan oleh Bp. Sandiyo hingga ke
Gunungbang.Tidak jelas kapan Karanganom menjadi pepanthan GKJ
Wiladeg.Perkembangan GKJ Wiladeg berlanjut dengan masuknya Grogol
sebagai pepanthan GKJ Wiladeg pada tahun 1988.Adanya pepanthan Grogol,
karena buah pelayanan jemaat pepanthan Bejiharjo, yang akhirnya membuat
Bp. Antonius Kiman menjadi Kristen dan mengabarkan Injil di
Grogol.Pekabaran Injil Bp. Antonius Kiman membuahkan hasil.Bp. Sutrisno
bersedia memberikan tanahnya untuk dibangun gedung gereja.Semakin
berkembanglah GKJ Wiladeg.Jumlah jemaat ketika itu sekitar 4.372
orang.Wujud perkembangan GKJ Wiladeg adalah dengan mendewasakannya
pepanthan Susukan menjadi gereja dewasa.Ibadah pendewasaan dilaksanakan
pada tanggal 7 Juni 1987, atas persetujuan majelis GKJ Wiladeg, klasis
dan sinode. Pepanthan sebagai gereja induk, dan ada lima pepanthan calon
gereja dewasa GKJ Susukan yaitu Ngampelombo, Ngagel, Wirik, Jatisari,
dan Bedoyo.
Penulis :
Penulis :
Pdt. Yehuda Fajar Kristian Labeti, M.Si
Komentar
Posting Komentar